Target PAD Kab.Mamasa Tahun 2021 Baru Mencapai 62 %

Metro Sulbar(METROSULBAR)- Pemerintah Kabupaten Mamasa telah menetapkan target Pendapatan Asli Daerah (PAD) tahun 2021 .Yang mana total PAD yang ditargetkan Rp,38 mliar, baru mencapai realisasi Rp,22 miliar (62 %) Periode sampai dengan tanggal 12 November 2021.

Kepala Bidang Pendapatan Asli Daerah ,Badan Pengelolaan Keuangan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Mamasa Uce Van Schoten,S.STP.
mengatakan , target PAD Kabupaten Mamasa tahun 2021 Rp. 38 miliar atau naik dibanding tahun lalu 2020 hannya Rp.32 milliar.

“Dimana tahun lalu kita hannya target 32 miliar dan dicapai sampai dengan ahir desember 2020 Rp,29 miliar ( 91%) jadi untuk tahun ini 2021 kita tidak bisa jamin dapat 100 % , jangankan 100 % , 90 % saya tidak jamin, dikarenakan berpengalaman tahun lalu yang hannya bisa dapat target 91 % tidak bisa sampai 100 % ” Sebut Ucek diruang kerjanya ,19/11/2021

Dikatan yang mengakibatkan lambatnya PAD masuk itu di disebabkan kurannya pemasukan pajak galian C , kenapa demikian karena banyaknya proyek yang selesai namun belum dibayarkan dan itu menjadi kendalah.

Karena nanti setelah pembayaran progres pekerjaan 95 % baru ada pembayaran galian C. Sementara uang yang mau dipakai bayar belum ada, jadi tidak ada juga dapakai bayar galian C.Tambah alumni STPDN.

“Pajak PBB sangat rendah ,jadi dimintah kepada media dan LSM dapat memberi pemahaman kepada masyarakat agar sadar membayar pajak, karena tanah yang dimiliki masyarakat ada pajaknya per tahun,sekalipun kecil .Kalau masyarakat sadar hukum maka sadar kewajiban, Jangat hak saja diminta” tegas Kabid Pendapatan Daerah Mamasa meski dengan nada santai.

Dikatakan kalau di tanya soal penyumbang PAD yang paling banyak tidak ada yang siknifikan tingginya ,kecuali di kabupaten Mamasa ada tambang ,akan ada perusahaan yang berdiri , akan ada pengeloaan hutan dan pertanian ,Itu baru ada pemasok PAD, tapi sepanjang ini belum ada tidak akan tinggi itu PAD terbesar seperti dikabupten lain,lanjutnya.

Lebih lanjut dikatakan dampak daerah apabilah tidak dapat target akan mengalami devisit , pendapatan daerah tidak dapat maka otomatis mempengaruhi juga belanja, juga pasti ada yang tidak terealisasi.

“Na….Dalam tsruktur APBDnya kita kalau pendapatan tidak dapat dan tetap belanjanya tidak dikurangi itulah yang dikatakan defisit, lebih besar anggaran belanja Dari pada anggaran pendapatan yang didapat” tambahnya.

Uce Van berharap kepada masyarakat supaya kita harus sadar sebagai warga negara karena itu juga himbauan pemerintah mulai dari pusat sampai kedaerah sama,selaain hak yang kita tuntut dari pemerintah kita harus sadar juga dengan kewajiban , sama didalam agama ada hak dan kewajiban apalagi didalam sosial masyarakat .

Marwan / Mamasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here