METROSULBAR COM (MAMUJU) Korban penganiayaan atas nama Syar, yang menyebutkan penyidik Kriminal Umum ( Krimum ) Polda Sulbar, yang tidak profesional dalam melakukan penanganan kasus penganiayaan terhadap dirinya. Padahal berkas perkaranya sudah dilimpah ke jaksa penuntut Kejari Sulbar.

“ Ini yang tidak diketahui pelapor, seharusnya ditanya sama jaksa karena berkas perkaranya sudah lengkap ( P21 ), “ kata Kabid Humas Polda Sulbar, Kombes Pol. Syamsu Ridwan, kepada Sejumlah Wartawan di Polda Sulawesi Barat

Lebih jelas Ridwan menyebutkan, korban penganiayaan yang tak lain Istri seorang anggota Polresta Mamuju, atas nama Syar. Penyidik telah bekerja secara profesional hingga berkas perkaranya bisa rampung alias P21.

Ridwan lebih jelas menyebutkan, kasus dengan nomor register LP/79/XI/2020/SPKT yang dilaporkan oleh korban atas nama Syar pada tanggal 01 November 2020, ini telah lama dilimpah di Kejaksaan dan berkas perkaranya telah dinyatakan lengkap atau P21 oleh Jaksa peneliti dari Kejaksaan Tinggi ( Kejati ) Sulawesi Barat pada tanggal 06 April 2021.

“Itu tidak benar, Anggota kami sudah bekerja secara profesional dan berkas perkara kasus tersebut sudah dinyatakan lengkap atau P21 pada tanggal 06 April yang lalu, selanjutnya tersangka dan barang bukti akan diserahkan ke kejaksaan,” Tegas Kabid Humas.

Soal permintaan pelapor agar tersangka ditahan, kata Syamsu mengakui tersangka memang tidak dilakukan penahanan dengan alasan kondisi tersangka dalam keadaan hamil tua dan selama proses penyidikan berjalan, Tersangka kooperatif dan rutin melakukan wajib lapor kepada penyidik serta tidak ada kekhawatiran tersangka melarikan diri dan menghilangkan barang bukti.

“Memang tersangka tidak ditahan karena dalam keadaan hamil besar dan selama proses penyidikan, tersangka kooperatif dan rutin melakukan wajib lapor di krimum Polda Sulbar, tidak ada kekhawatiran tersangka melarikan diri atau menghilangkan barang bukti sesuai pasal 21 ayat 1 KUHAP, ”jelas Syamsu

Dia menambahkan, kepada korban jika ingin mengetahui perkembangan penyidikan terhadap kasus tersebut, bisa langsung menghubungi penyidik dan meminta surat pemberitahuan perkembangan hasil penyidikan ( SP2HP ) dan itu hak bagi pelapor. karena Polisi selalu menjamin akuntabilitas dan transparansi, baik penyelidikan maupun penyidikan.

“ Seharusnya pelapor minta SP2HP kepada penyidiknya, biar bisa mengetahui sejauh perkembangannya penanganan penyidik, karena kami selalu menjamin akuntabilitas dan transparansi penyelidikan atau penyidikan.” jelas Kabid Humas Kombes Syamsu Ridwan.

Seperti diketahui belum lama ini, kejadian penganiayaan yang sempat viral di Medsos bertempat di lapangan Ahmad kirang Mamuju, saat jelang Pilkada Mamuju tahun 2020 lalu melakukan konferensi pers terkait kejadian tersebut.

Syar yang merasa korban, menuding penyidik Krimum Polda Sulbar tidak serius menangani perkara yang telah ia laporkan dan menyayangkan tidak adanya proses hukum kepada terlapor.

Abdul Halik/ Metrosulbar Grup.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here