Metrosulbar.com — Jakarta — Pengabdian Alumni Akademi Militer (Akmil) Yogya yang merupakan bagian dari Generasi ’45 pantas menjadi pembelajaraan dan teladan. Terutama bagi Generasi Penerus TNI-AD, khususnya yang bertugas di Kodam III, Siliwangi.

Demikian intisari dari kunjungan dan ziarah yang dilakukan Ikatan Keluarga Akademi Militer Yogya (IKAM Yogya) dipimpin Prof. Indroyono Soesilo, Selasa 30 November 2021.

IKAM Yogya berkunjung ke Dinas Sejarah Angkatan Darat (Disjarahad) Bandung, ziarah Ke Taman Makam Pahlawan Cikutra Bandung, dan berkunjung ke Museum Mandala Wangsit Siliwangi dalam rangka pembuatan ruangan Pengabdian Alumni Akmil Yogya di Museum Mandala Wangsit Siliwangi, Bandung.

Rombongan IKAM Yogya diterima Kepala Dinas Sejarah TNI-AD, Brigjen Dr. Rachmat, Koordinator Staf Ahli Pangdam III Siliwangi, Brigjen Agus Supriyo Winarno dan Kepala Pembinaan Mental Kodam III Siliwangi, Kol.Yogi Gunawan.

Para pimpinan TNI-AD di Bandung ini mengapresiasi dan menyambut baik rencana IKAM Yogya untuk melestarikan perjuangan Alumni Akmil Yogya, yang merupakan bagian Generasi ‘45 TNI-AD, guna dipelajari dan diteladani oleh Generasi Penerus TNI-AD, khususnya yang bertugas di Kodam III, Siliwangi.

“Akmil Yogya memiliki sejarah yang lekat dengan Jawa Barat dan Kodam III Siliwangi. Alumni Akmil Yogya, lulusan 1945-1950, terdiri tiga angkatan, berjumlah 350 perwira, sebagian besar pernah berjuang di Jawa Barat dan berjuang bersama Pasukan Siliwangi,” ujar Prof. Indroyono Soesilo selaku Dewan Pengawas IKAM Yogya di Jakarta Jumat (03/12/2021).

“Saat Perang Kemerdekaan -1, tahun 1946, Para Taruna Tingkat I Akademi Militer (Akmil) Yogya dikirim untuk bertempur di wilayah Bandung Utara, dibawah Pasukan Teratai pimpinan Mayor Jenderal dr.Moestopo dan berjuang dibawah Komandan Sektor Utara, Letkol Sukanda Bratamenggala.
Para taruna Akmil yang masih belia ini memimpin regu-regu pasukan di Pos-Pos Cisarua, Tangkuban Perahu, Ciater, Puncak Eurat, Maribaya dan Pelintang,” paparnya.

“Atas pengabdiannya, mereka memperoleh Satya Lencana Perang Kemerdekaan I. Saat Operasi Penumpasan Pemberontakan PKI-Muso/Madiun, tahun 1948, tiga kompi taruna Akmil Yogya bertempur bersama Pasukan Siliwangi dibawah Komando Batalyon Nasuhi dan Batalyon Sambas. Dari operasi ini mereka mendapat anugerah Satya Lencana Gerakan Operasi Militer I (GOM I),” ungkap Indroyono.

Saat Belanda menyerbu Ibukota Perjuangan, Yogyakarta, 19 Desember 1948, 30.000 Pasukan Siliwangi yang saat itu berkedudukan di Yogyakarta, ber “Long March” kembali ke Jawa Barat dan memulai Perang Gerilya Semesta.

“Sebagian Alumni Akmil Yogya ikut bersama Siliwangi dan bertempur di Jawa Barat. Mereka memperoleh penghargaan Satya Lencana Perang Kemerdekaan II dari Negara,” paparnya.

“Pengabdian para Alumni Akmil Yogya, bersama Siliwangi, dalam Operasi Penumpasan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), 1950, Operasi Penumpasan Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS), 1951, Penumpasan PRRI/Permesta 1958, Penumpasan DI/TII Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan, Penumpasan DI/TII Kartosuwiryo di Jawa Barat, sebagai Pasukan Garuda II Penjaga Perdamaian PBB di Congo-Afrika, juga Operasi Trikora Pembebasan Irian Barat, Operasi Dwikora, serta Operasi Penumpasan G 30 S/PKI, kesemuanya tercatat dan akan diabadikan di Museum Mandala Wangsit, Bandung,” imbuhnya.

“Akmil Yogya ditutup tahun 1950 dan dibuka kembali oleh Presiden Soekarno, pada tahun 1957 di Akmil Magelang, sebagai Angkatan Keempat.
Tercatat 10 Alumni Akmil Yogya yang gugur saat beroperasi bersama Siliwangi, antara lain Vaandrig Cadet Anto Soegiarto dan Vaandrig Cadet Hardo Sumeru yang gugur saat Operasi Penumpasan PKI-Muso/Madiun, Letda Leo Kailola dan Letda Johannes Sanjoto yang gugur saat Peristiwa APRA – Bandung, Januari 1950, bersama Letkol AG Lembong, ada pula Letda Torry Soebiantoro yang gugur di Ciamis, 1955, dalam Operasi Penumpasan DI/TII Kartosuwiryo, serta Lettu Oetoro, yang gugur dalam Operasi Garuda II di Congo – Afrika,” paparnya.

“Alumni Akmil Yogya mantan pimpinan TNI-AD dan pemimpin Nasional yang pernah bertugas di Siliwangi, antara lain: Letjen Himawan Soetanto, Mantan Pangdam Siliwangi, Letjen Sajidiman Suryohadiprodjo, Mantan Komandan Batalyon 309/Siliwangi, Jenderal Soesilo Soedarman, Mantan Komandan Kavaleri-I/TT III Siliwangi, Brigjen Sudarman Banuarli, Mantan Komandan Batalyon 328/Siliwangi dan Mayjen Rachwono, Salah satu perwira yang ikut Long March Siliwangi dari Yogyakarta ke Jawa Barat, tahun 1948,” pungkas Indroyono.

(fri/Metrosulbar Jakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here