METROSULBAR – Pembangunan gedung di SDN Sanrege, Kecamatan Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah, Provinsi Sulawesi Barat, menjadi sorotan publik setelah terungkap adanya selisih harga material yang sangat signifikan antara Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan harga di lapangan.
Dalam RAB, harga pasir tercatat sebesar Rp400.000 per rit, namun di lapangan disebut mencapai Rp840.000 per rit, dengan selisih sekitar Rp440.000–Rp480.000 per rit. Batu pondasi juga mengalami kenaikan dari Rp650.000 per rit dalam RAB menjadi Rp1.020.000 per rit di lapangan, selisih sekitar Rp370.000 per rit.
Kepala sekolah melalui sambungan WhatsApp pada 18 Februari 2026 menyatakan bahwa pembangunan tetap berjalan dan tidak ada pengurangan spesifikasi pekerjaan.
Namun, selisih harga material yang cukup besar menimbulkan pertanyaan kritis, Dari mana kepala sekolah akan mengambil dana tambahan untuk menutupi kenaikan tersebut, dan apakah ada kemungkinan volume bangunan dikurangi untuk menyesuaikan anggaran? Dugaan pengurangan volume bangunan ini memunculkan kekhawatiran bahwa pembangunan fasilitas pendidikan bisa tidak sesuai RAB awal.
Sejumlah pihak menekankan perlunya transparansi penuh terkait mekanisme penyesuaian anggaran dan sumber dana tambahan.
Pemeriksaan dari instansi terkait dianggap penting untuk memastikan pembangunan SDN Sanrege berjalan sesuai ketentuan, spesifikasi teknis, dan aturan anggaran yang berlaku.
( R U S L I )






















