Oleh: Suhardi Duka
Demonstrasi adalah hak konstitusional, namun ketika aspirasi berubah menjadi anarki, maka luka yang ditinggalkan tidak hanya berupa puing-puing infrastruktur, melainkan retaknya harmoni sosial, hilangnya kepercayaan publik, dan tercorengnya martabat daerah.
Bagi masyarakat Mandar, filosofi Mala’biq bukan sekadar simbol, melainkan kompas moral yang menuntun perilaku. Nilai-nilai luhur sipakatau (saling memanusiakan), sipakalebbi (saling memuliakan), dan sipakainge (saling mengingatkan) adalah napas kehidupan orang Mandar.
Leluhur kita telah mengajarkan: “Perselisihan diselesaikan di Baruga, bukan di jalanan; dengan musyawarah, bukan dengan api dan batu.”
Ketika demonstrasi berujung ricuh, bukan hanya fasilitas publik yang terbakar, tetapi Mala’biq kita ikut hangus.
Kita seperti membakar rumah sendiri—bukan hanya bangunannya yang hancur, tetapi nama baik, peluang, dan masa depan anak cucu kita turut menjadi abu.
Tiga Luka Anarki yang Mengancam Sulawesi Barat
1. Luka Ekonomi — Tertutupnya Pintu Kemajuan
Setiap kerusuhan memukul stabilitas ekonomi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat mulai membaik tahun ini mencapai 5,21%, dan akan bertumbu sampai 5 %, namun potensi ini bisa terhenti jika kerusuhan berulang. Investor kehilangan kepercayaan, pelaku UMKM merugi, distribusi barang tersendat, dan proyek-proyek strategis berpotensi terhenti.
Dana APBD yang seharusnya diprioritaskan untuk pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan rakyat akhirnya dialihkan untuk memperbaiki kerusakan akibat anarki. Ini adalah kemunduran yang mahal dan tidak produktif.
2. Erosi Mala’biq — Pudarnya Nilai, Retaknya Persaudaraan
Filosofi Mala’biq yang diwariskan nenek moyang mengajarkan kita hidup berdampingan dalam kehormatan, kesantunan, dan kebersamaan. Namun, aksi anarkis menodai nilai-nilai luhur ini.
Sipakatau melemah ketika orang saling melukai.
Sipakalebbi memudar ketika fasilitas publik dihancurkan.
Sipakainge hilang ketika amarah lebih keras dari bijak kata-kata.
Jika nilai-nilai ini luntur, kita bukan hanya kehilangan identitas budaya Mandar, tetapi juga arah moral sebagai masyarakat Sulawesi Barat.
3. Krisis Kepercayaan dan Rusaknya Citra Daerah
Anarki juga meruntuhkan modal sosial dan kepercayaan publik. Berita kerusuhan yang viral membuat Sulawesi Barat dicap tidak aman dan tidak kondusif.
Investor menahan diri, wisatawan enggan datang, dan reputasi daerah kita di tingkat nasional merosot. Membangun kembali kepercayaan dan citra daerah bukanlah pekerjaan semalam, melainkan proses panjang yang memerlukan kesungguhan kolektif.
Jalan Pulang: Kembali ke Ruh Mala’biq
Jika kita ingin Sulawesi Barat menjadi provinsi maju, damai, dan bermartabat, maka Mala’biq harus kembali menjadi kompas moral dalam setiap tindakan kita.
Ada tiga langkah strategis untuk mengembalikan Sulbar pada jalan persaudaraan:
1. Tolak Kekerasan, Kedepankan Dialog
Aspirasi rakyat harus disampaikan dengan cara bermartabat dan berbudaya.
2. Libatkan Tokoh Adat, Agama, Akademisi, dan Pemuda
Budaya Mandar menempatkan tokoh adat dan mara’dia sebagai mediator konflik. Kita perlu membangun forum musyawarah permanen sebagai wadah penyelesaian masalah.
3. Perkuat Saluran Aspirasi Publik
Pemerintah harus membuka ruang komunikasi yang luas, baik melalui forum tatap muka maupun kanal digital. Aspirasi rakyat tidak boleh dibiarkan menggantung di udara.
Sulbar. Mari Menjaga Rumah Kita
Sebagai Gubernur Sulawesi Barat, saya mengajak seluruh masyarakat: jangan bakar rumah kita sendiri. Fasilitas umum, gedung pemerintahan, dan infrastruktur daerah dibangun dari keringat rakyat, untuk kepentingan rakyat.
Mari kita jaga daerah ini bersama-sama. Jangan terprovokasi pihak manapun yang datang mengadu domba dan merusak Sulawesi Barat. Kita harus bersatu dalam persaudaraan, memulihkan kepercayaan, dan menata masa depan.
Penutup: Mala’biq, Jalan Damai Kita
Sulawesi Barat adalah tanah Mala’biq—tanah kehormatan dan persaudaraan. Kita tidak boleh membiarkan anarki menghapus nilai-nilai luhur yang diwariskan nenek moyang.
“Ada’na to Mandar, mala’biq tongang”
(Orang Mandar itu, sejatinya bermartabat).
Mari menjadikan dialog sebagai senjata, persaudaraan sebagai kekuatan, dan Mala’biq sebagai jalan damai.
Hanya dengan cara itu kita dapat memastikan bahwa Sulawesi Barat tetap menjadi tanah yang damai, aman, dan penuh kehormatan bagi generasi yang akan datang.


















