Beranda DAERAH MAMUJU Bahlil Di Cibir,Golkar terus Berkibar Sepanjang Masa

Bahlil Di Cibir,Golkar terus Berkibar Sepanjang Masa

0
10

Mamuju – Hari ini, Selasa telah 62 tahun Golkar berdiri sejak Oktober 1964. Partai ini mencatatkan diri salah satu partai tertua di dunia, walau tidak bisa dibandingkan dengan partai lama di Amerika Serikat dan Eropa yang telah berumur ratusan tahun.

Jauh sebelum Indonesia ada secara yuridis formal, De Indische Partij berdiri tahun 1912 yang digagas oleh tiga sekawan: Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo, dan Ernest Douwes Dekker namun partai ini bertahan seumur jagung belaka lantaran penguasa kolonial Hindia-Belanda membubarkan partai ini karena pendirinya dianggap ‘berbahaya’. Niat awal tiga sejawan menjadiikan partai _modern_ ini akan ikut mengawal kehadiran Republik, buyar seketika.

Yang hampir semasa dengan Golkar adalah partai Pertumbuhan Kebangsaan Melayu Bersatu (UMNO) di Malaysia. Partai ini lama menjadi _single mayority_ (partai berkuasa) di negeri jiran, tak ubahnya Golkar berkuasa selama 32 tahun sejak berdirinya hingga 1998.

Meski bukan tokoh pendiri UMNO, tetapi nama Tun Dr. Mahathir Mohamad (101 tahun) adalah ikon yang pernah memimpin partai terbesar Malaysia selama 22 tahun (1981-2003). Ikon Golkar di Indonesia adalah Akbar Tandjung, selain pak Harto sendiri sebagai tokoh besar di belakang Golkar yang menciptakan pemimpin formal partai sejak menjadi Sekber Golkar hingga masa reformasi 1998.

Meski hanya 6 tahun menjadi Ketua Umum Golkar (1998-2004), Akbar Tandjung adalah figur ‘penyelamat’ partai Beringin ini. Pascareformasi, sudah bukan rahasia kalau partai ini nyaris hilang ditelan arus reformasi. Rakyat dan mahasiswa Indonesia menuntut pembubaran Golkar. Kalangan reformis menganggap Golkar adalah biang kerok masalah dan dianggap penopang utama Orde Baru.

Akbar Tandjung dkk coba menghadapi tuntutan pembubaran Golkar dengan mendeklarasi model baru agar senafas tuntutan zaman: pendirian Partai Golkar haluan baru.

Meski dengan embel-embel kata partai di depannya, Golkar tetap dianggap kelompok paling berdosa selama 32 tahun. Tanpa tedeng aling-aling, Akbar Tandjung coba membangun konsolidasi Partai Golkar. Ia rajin mendatangi kantong-kantong Partai Golkar di daerah. Intuisi Akbar benar: partai ini masih hidup. Kader-kadernya beranak pinak, semakin banyak dan loyal pada partai.

Tangan dingin Akbar memoles partai, menyemangati kader, hasilnya mencengangkan: Pemilu 1999 Partai Golkar pemenang kedua setelah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Lima tahun kemudian Partai Golkar kembali tampil jadi pemenang pemilu. Padahal di saat bersamaan justru partai ini diklaim banyak pihak telah retak (untuk tidak mengatakan ‘hancur’).

Perjalanan Partai Golkar sejak reformasi hingga sekarang mengalami pasang surut terutama di sisi kekuasaan negara. Partai Golkar selalu bisa menjaga jarak dengan siapa pun yang jadi Presiden dan Wakil Presiden. Cibiran Partai Golkar tak biasa di luar atau jauh dari kekuasaan tak membuat partai ini rapuh kedalam. Kader-kadernya tetap solid sehebat apa pun badai yang menerpanya.

Terkini, setelah Bahlil Lahadalia tampil memimpin Partai Golkar– ia dilantik Ketua Umum Partai Golkar pada 21 Agustus 2024 –partai ini tak sepi pergunjingan publik. Bahlil sendiri dianggap titipan kekuatan di luar Golkar, dan banyak pihak mengalamatkan ke Presiden Joko Widodo kala itu. Bahlil yang orang dekat Jokowi dianggap sekadar perpanjangan tangan istana untuk memperkuat posisi politiknya, bahkan tak sedikit yang sinyalir Jokowi akan cawe-cawe di Golkar lewat Bahlil sebagai ketua umumnya sendiri.

Soal lain, raihan status Doktoral Bahlil di Universitas Indonesia (UI) dengan disertasi Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) L juga pernah disorot tajam. Pihak UI kemudian menangguhkan disertasi Bahlil tersebut.

Kaderisasi Golkar, paling tidak di zaman Akbar Tandjung dan sebelumnya– semoga ini tak keliru — masih mengandalkan _married sistem_. Kekinian, Gokar pun seolah larut rltak lagi nenentingkan kapabilitas dan kompetensi kader. Asumsi ini seolah sejalan dengan kekuatiran atas apa yang dinukilkan Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo kepada _KOMPAS.id_, Senin, 19 Oktober 2026:

“Harapan terbesar saya ke depan adalah kembalinya marwah kaderisasi dan meritokrasi secara konsisten. Partai tidak boleh terjebak dalam prakmatisme instan yang menempatkan seseorang dalam kepengurusan hanya karena modal materi, hubungan keluarga atau pertemanan, politik balas budi, maupun nepotisme. Kepemimpinan harus tumbuh melalui proses, kapasitas, dan pengabdian.”

*Golkar Sulawesi Barat: Trengginas atau Keropos?*

Haji Samsul Mahmud alias Assul memang lincah di kebun: kebun kakao. Komoditas buah favorit bahan eksport dunia menjadikan Assul sukses di usaha pilihannya ini sejak kecil dan membuatnya kaya– persepsi banyak orang, dan secara kasat istanamya di Mapilli, Polewali Mandar, membuktikan pendapat publik itu.

Kekayaan ekonomi Aji Assul dari bisnis buah kakao di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah melempangkan jalan mengelola mesin politik ketika berkandidasi pada pilkada lalu yang ia menangi.

Nasib baik Assul tidak kalah moncer dengan pendahulunya di Golkar, yang piawai menyulap ribuan hektar lahan gambut dan berundak menjadi hamparan kebun sawit di Kabupaten Mamuju Tengah. Meski jauh lebih senior dari sisi umur, Haji Aras Tammauni juga selangkah lebih di depan soal suksesor partai. Buktinya, ia mampu dudukkan Hj Amalia Fitri– anaknya sendiri –jadi Ketua DPRD Sulawesi Barat atas konsekuensi Partai Golkar rengkuh 10 kursi dan pemenang di parlemen.

Kedua figur ini lincah dan sukses main di kebun sawit dan kakao. Tapi peran keduanya di parpol berada dalam timbangan yang beda: Haji Aras lebih mengandalkan intuisi dan peran anak-anak biologisnya, sementara Haji Assul lebih menonjol polesan Haji Usman Suhuriah– seolah mentornya di parpol Golkar, mungkin pula dalam urusan dapur pemerintahan di Polewali Mandar.

Yang layak disimak dan ditelisik hari-hari ini, terutama Partai Golkar sedang bergembira setelah 62 tahun mengabdi untuk negeri, apakah Assul dan Aras duduk semeja lalu berdiri untuk seterusnya bergantian menyendok nasi tumpeng?

Analisis kedua pemimpin beda gaya dan karakter.

Haji Aras Tammauni, tokoh tua Partai Golkar Sulawesi Barat sukses membawa partai ini memenangi pemilu lokal 2024 lalu. Mengalahkan jumlah perolehan kursi Partai Demokrat di parlemen Sulawesi Barat pada Pemilu 2024 justru Aras Tammauni _didepak_ sebagai ketua partai di provinsi. Tetapi ini bisa dipastikan domain pusat atau tidak berpatokan pada pemungutan suara murni sesuai potensi pemilik suara di internal partai se-provinsi. Ini sudah rahasia umum, analisis ini sekadar bumbu belaka.

Fakta yang lain, Partai Gokkar memenangi 4 kabupaten saat Pilkada 2024 lalu, paling tidak menjadi tolok ukur Aras Tammauni ‘sukses’ memimpin Golkar walau tak mampu menembus 1 kursi ke Senayan (DPR RI). Dan tentu agak menyakitkan karena orang di badannya sendiri yang harus keluar secara permanen dari ruang lingkup Senayan, mungkin 5 tahun atau entah berapa lama.

Keterpilihan Samsul Mahmud sebagai Ketua DPD Partai Golkar Sulawesi Barat dan _memarkir_ Haji Aras Tammauni adalah cara berani dan perjudian Golkar menghadapi agenda elektoral ke depan.

Jika pertimbangan elit pusat Golkar bahwa kehilangan 1 kursi ke Senanyan untuk partai Beringin menjadi anomali bagi Aras Tammauni, akan menjadi tantangan berat bagi Assul, sapaan Syamsul Mahmud yang Bupati Polewali Mandar saat ini. Apakah ada jaminan Golkar dipastikan rebut 1 kursi ke Senayan di pemilu berikutnya?

Secara faktual dan potensi elektoral, kabupaten yang dipimpin Assul adalah daerah dengan pemilih terbanyak di Sulawesi Barat. Tapi Assul belum teruji dalam politik elektoral kecuali baru sebatas memenangi pilkada dua tahun lalu.

Tapi apa pun itu Assul kini ketua DPD Golkar Sulawesu Barat. Ia yang mengorkestrasi dan memainkan strategi partai ini hingga Pemilu 2029– apalagi ada Usman Suhuriah _tangan kanannya_. Assul yang “kurang cakap” dalam pergaulan publik, termasuk menghindari komunikasi langsung dengan para pihak, salah satunya Insan Pers, menimbulkan tanda tanya, apakah kaca mata buram yang selalu selalu melekat di batang hidungnya adalah kaca mata untuk membuat realitas benderang atau cara halus menghindari tatapan Rakyatnya? Wallahu’alam

Selasa, 20 Oktober 2026 adalah HUT ke-62 Partai Golkar. Seluruh kader partai ini sedang membuat agenda ramai-ramai menyambut hari kebesaran partai ini. Selamat…!!

NAMA – SARMAN SAHUDING

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini