Urgensi Membangun Komonikasi Menyejukkan terhadap Peserta Didik ( Anak).

0
235

Penulis : Drs. Sjahrir Tamsi, M.Pd.

(Kepala UPTD SMKN 1 Tapalang Barat)

METROSULBAR ONLINE-Salah satu faktor urgensi yang sangat penting dan mendesak dalam mendidik anak adalah komunikasi.

Karena dengan membangun komunikasi yang positif dan menyejukkan terhadap anak sejak dini, dapat berpengaruh besar pada tingkat kepercayaan dirinya (self-confident). Dari komunikasi menyejukkan yang diperoleh, maka anak bisa membangun konsep, strategi dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.
Oleh karena itu setiap pendidik dipastikan mempunyai metode mendidik anak/peserta didik yang berbeda-beda,

Tergantung dari pengalaman dan referensi masing-masing. Selain itu pendidikan yang diberikan kepada anak/peserta didik juga tidak boleh dilakukan dengan begitu saja. Karena itu kecerdasan anak hingga besar nanti dipengaruhi faktor lingkungan dan pola asuh yang diterimanya, juga dapat mempengaruhi sifat dan karakter anak di masa depannya.

Mendidiklah dengan hati, sebab kecerdasan, kepintaran itu bisa diperoleh dari cara mendidik dengan hati dan pikiran terhadap anak atau peserta didik yang berimbang. Prestasi akademik harus dikuasai, tetapi tak kalah pentingnya, peserta didik harus punya kejernihan hati dan pikiran.

Kecenderungan peserta didik yang berperilaku menggunakan hati dan pikirannya, yakni sikapnya yang lebih berimpati, pada dirinya, yang penting (orang tuanya), pendidiknya/gurunya dan lingkungannya (orang lain siapapun tanpa kecuali).

Mendidik dengan hati dan pikiran itu bisa ditularkan kepada anak atau peserta didik. Yaitu dengan cara :
1. Hargai seberapapun sikap dan perilaku atau apapun prestasinya.

Contoh yang bisa dihadirkan dihadapan pendidik setiap hari di sekolah, misalnya peserta didik datang ke sekolah tepat waktu, kepeduliannya akan kebersihan papan tulis dan ruang kelasnya, mengambil dan menaruh atau menempatkan sampah pada tempatnya, ataupun dengan mengerjakan tugas-tugas di kelas yang ala kadarnya, juga hasil penilaian tidak sesuai ekpektasi pendidik, walau peserta didik telah berusaha mengerjakan tugas-tugas yang telah diberikan kepadanya.
2. Berikan apresiasi kepada peserta didik pada hal-hal positif sekecil apapun yang dilakukannya.
Apresiasi tidaklah harus mahal-mahal dengan hadiah, cukup dengan senyum manis yang penting atau pendidik dan dengan ucapan terima kasih, atau tepukan di pundak dengan kata-kata, misalnya “Ananda memang bisa!, Ananda memang hebat!” dan lain sebagainya.

Maka dari itu, betapa pentingnya mendidik dengan hati dan pikiran. Hal ini bisa dilakukan dengan cara ; bangun komunikasi terhadap peserta didik dengan hangat, ramah, rendah hati dan selalu menyenangkan, hargai martabatnya sebagai individu yang unik bahwa semua anak atau peserta didik mempunyai karakter yang berbeda-beda, terimalah dengan cara-cara yang baik (sopan santun), menyenangkan hati, terbuka dan apa adanya.
3. Lakukan pendampingan secara rutin/kontinyu bila ada diantara anak atau peserta didik terlibat konflik atau membuat konflik, dengarkan masalahnya dan bantu atasi atau beri solusi dari permasalahannya.

Contoh sikap positif pendidik lakukan dengan mendengarkan curhatan dan keluhannya secara seksama.

Menurut Prof. Dr. Abdullah Pandang, M.Pd. Dekan Fakulras Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sulawesi Barat (UNSULBAR) : Mendidiklah dengan hati. Oleh karena hanya dengan bahasa hati, pesan pendidikan bisa sampai ke hati anak.

Bagaimana Caranya?
Mendidik dengan hati itu tak butuh ilmu yang tinggi. Tak butuh diklat berjilid-jilid. Tak butuh fasilitas mewah dan mahal.
Mendidik dengan hati hanya butuh sedikit kesabaran dan kesediaan diri untuk melakukan hal-hal sederhana seperti berikut:
1. Menerima anak apa adanya (keunikan, kecenderungan, keterbatasan, dsb)
2. Mendengarkan apa yang anak ingin katakan (kemauan, ketaksanggupan, keengganan, hambatan, dsb)
3. Merasakan apa yang anak sedang rasakan (galau, takut, bosan, dongkol, marah, dsb)
4. Memahami apa yang anak butuhkan (dukungan, support, perhatian, cinta, dsb)

5..Menemani anak menghadapi kesulitannya (mendampingi, menemani bicara, mendengar curhatnya, merespon keluhannya, merangkul di saat sulit).

Praktis Pendidikan Anak Usia Dini, Hana Marita S, juga berpendapat bahwa : “Mendidik anak  dengan hati adalah mendekatkan rasa dengan jiwa anak untuk memudahkan berinteraksi di rumah dan memudahkan pelayanan pembelajaran yang menyenangkan di sekolah” .

Kenapa harus dengan hati?
Oleh karena dari hatilah semua ketulusan berawal dan bermulanya sebuah keikhlasan yang dinilai dalam kegiatan sehari-hari, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi.

Rilis = Berita.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini