METROSULBAR COM (Jakarta) — Ledakan persoalan Covid-19 yang semakin tidak terkendali telah menempatkan Indonesia sebagai episentrum baru Covid-19 Asia menggeser India (kasus aktif), sampai dengan Pkl. 09:53 GMT, 23 Juli 2021 jumlah kasus positif mencapai 3.033.339, kasus aktif sebesar 561.384, dan tingkat kematian 79.032.

Ketua Departemen Ekonomi dan Pembangunan DPP PKS, Farouk Abdullah Alwyni, menyatakan bahwa leadakan kasus Covid-19 dewasa ini menunjukkan bagaimana persoalan non-ekonomi yang dalam hal ini kesehatan berdampak sedemikian besar terhadap ekonomi. Dalam situasi darurat pandemik Covid-19 sekarang ini, pada gilirannya, lemahnya sektor kesehatan juga berdampak signifikan terhadap perekonomian.

Mantan professional senior Islamic Development Bank (IDB) tersebut memaparkan bahwa dampak ekonomi dari persoalan kesehatan ini dapat dilihat dari beberapa indikator ekonomi seperti diantaranya; pertama, realisasi pertumbuhan ekonomi semester 1 yang hanya berada pada kisaran 3,1-3,3 persen jauh dibawah target APBN 2021 sebesar 5% yang bahkan mempunyai potensi untuk semakin menurun lagi di kuartal 3. Realisasi pertumbuhan yang ada juga berada dibawah prediksi pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 5,7 persen, bahkan Asean-5 sebesar 5,1 persen.

“Peningkatan realisasi defisit APBN semester 1 tahun 2021 sebesar 1,72% dari PDB meningkat dari defisit di semester 1 tahun 2021 sebesar 1,67%. Defisit keseimbangan primer selama semester 1 2021 juga meningkat ke negatif Rp. 116,3 triliun dari Rp. 99,6 triliun di semester 1 2020,” kata Farouk di Jakarta Sabtu (24/07/2021).

Menurut alumnus University of Birmingham ini, puncaknya adalah diturunkannya kembali status Indonesia dari negara yang berpendapatan menengah keatas, yang baru berusia satu tahun, kembali lagi ke negara yang berpendapatan menengah bawah oleh Bank Dunia, mengingat penurunan pendapatan per kapita Indonesia yang hanya 3.870 dollar AS di tahun 2020 dari 4.050 di tahun 2019. Batas minimal kategori negara menengah keatas adalah sebesar 4.046 dollar AS.

“Persoalan akan terlihat lebih buruk lagi, jika kita melihat bagaimana dampak ekonomi dari persoalan kesehatan sekarang ini terhadap meningkatnya jumlah pengangguran, tingkat kemiskinan, bisnis-bisnis yang tutup termasuk UMKM, belum lagi dampak sosial seperti psikologi masyarakat yang mengalami depresi dalam menghadapi persoalan tersebut,” tutup Farouk.

(fri/Metrosulbar/Jakarta).

Editor : Redaksi/LAode M).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here