METROSULBAR COM-Kerjasama atau sinergi antara pemerintah dan ulama penting dilakukan, karena pemerintah dan ulama dalam hal ini Majelis Ulama Indonesia memiliki peranan penting dalam membangun sebuah Bangsa dan Negara yang bermartabat sesuai dengan cita-cita pendiri Bangsa.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, H. M. Muflih B. Fattah saat memberikan sambutan pada acara pembukaan Musyawarah Daerah III Tahun 2021 Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sulawesi Barat di Hotel Pantai Indah Mamuju, baru-baru ini.

Dalam kesempatan tersebut H. M. Muflih mengapresiasi kinerja pengurus MUI masa khidmat 2015-2020 yang telah bekerja secara profesional dan mampu melakukan berbagai program dalam mengayomi umat islam di Sulawesi Barat.

Menurut Kakanwil, MUI merupakan tempat berkumpulnya cendekiawan muslim bertugas mengayomi umat, memberikan fatwa kepada supaya umat tetap tenang dan paham terhadap ajaran agama.

Lebih lanjut Muflih, oleh karena itu dengan paradigma dasar MUI; himayatul ummah (pelindung umat), khadimul ummah (pelayan umat) dan Shodiqul Hukumah (mitra pemerintah) kami yakin pemerintah dan MUI dengan bergandengan tangan bisa mewujudkan cita-cita pendiri bangsa ini.

Dalam acara tersebut hadir secara istimewa Dr. KH. Marsudi Syuhud selaku Wakil Ketua Umum MUI 2 dan juga selaku Ketua PBNU Pusat didampingi Wasekjen MUI Arif Fahrudin.

Selain itu hadir pula FORKOPIMDA Sulbar, pimpinan Cabang MUI Kabupaten se-Sulawesi barat, para Alim Ulama dan Cendikiawan muslim se-sulawesi barat serta Pimpinan pengurus Ormas se-Sulawesi Barat.

Dalam Musda III ini Majelis Ulama Sulbar ini, Kakanwil juga menyampaikan 4 poin harapan kepada MUI; yang pertama, sebagai wadah musyawarah para cendekiawan muslim untuk membahas dan memutuskan berbagai agenda MUI untuk umat dan untuk bangsa dengan inti UMAT RUKUN INDONESIA MAJU. Kedua, Wadah ini bisa digunakan sebagai forum konsolidasi dalam memperkuat peran dan sumbangsih MUI dalam kehidupan keagamaan dan kemasyarakatan serta kebangsaan.

Ketiga, menjadi forum penyerapan aspirasi umat islam dan respon ulama mengenai masalah-masalah keorganisasian, keagamaan, kemasyarakatan dan kebangsaan. Keempat, menjadi forum silaturahmi antara komponen umat dalam rangka meningkatkan partisipasi umat dalam kehidupan keagamaan, kemasyarakatan dan kebangsaan.

Menurut laporan panitia, sejatinya pelaksanaan MUSDA tersebut akan dilaksanakan pada bulan september 2020 namun dengan berbagai macam agenda yang datang silih berganti dan dengan ditambah bencana gempa yang melanda Sulawesi Barat pada Januari lalu maka MUSDA baru bisa terselenggara hari ini.

Rilis : Humas Kemenag Sulbar.
Redaksi : Metrosulbar Com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here