*Dimata Pendatang Habsi-Irwan Lebih Pas*

0
172

Sebagai Pendatang, Kalau Kita Sudah Minum Airnya Mamuju maka sesungguhnya kita Sudah Jadi Orang Mamuju, Senang Tinggal Di Mamuju Hidup dan Mati Di Mamuju

Mamuju- Tidak bisa di Pungkiri bahwa Sulbar khususnya ibukota Mamuju menjadi satu daerah tujuan para Pencari Kerja untuk memperbaiki kesejahteraan hidup. Ada yang datang dengan bermodalkan Ijasah minim pengalaman, adapula berbekal sedikit modal untuk berdagang namun kebanyakan diantara mereka minim pendidikan dan pengalaman dan Modal tentunya, namun dengan semangat dan keyakinan yang tinggi optimis bisa merubah penghidupan mereka di negeri baru Mamuju.

Arus kedatangan orang-orang ke Mamuju sejak Sulbar berdiri pun semakin mengalir sejak 2006 hingga 2016 hal ini sesuai catatan BPS yang menyebutkan lonjakan Penduduk dari tahun-ketahun yang makin tinggi. Belum lagi Infrastruktur Jalan yang menghubungkan Mamuju kedaerah lain makin tahun di sempurnakan baik oleh Provinsi maupun Pusat sehingga akses ke Mamuju makin lancar belum lagi sarana transportasi.darat,laut dan udara juga meningkat.

Kalau ada Rumor bahwa pendatang adalah penyebab Angka Kemisikinan, maka pertanyaannya adalah pendatang mana yang di maksud!! Karena pada kenyataannya justru pendatang malah lebih senang tinggal di Mamuju apalagi iklim pemerintah dibawah kepemimpinan Habsi Wahid dan Irwan SP Pababari
Bupati dan wakil bupati, tidak pernah membeda-bedakan atau membatasi apalagi melarang mereka tinggal dan mencari kerja di mamuju karena siapapun yang tinggal Mamuju apalagi sudah minum airnya Mamuju maka mereka sudah jadi.Orang Mamuju.

Saya yakin kalau ada yang menganggap dirinya pendatang di Mamuju pasti tidak mau tinggalkan Mamuju. Selain karena peluang usaha sangat terbuka lebar juga suasananya sejuk karena pemimpinnya ramah dan jujur.

Olehnya itu mari bersama kita sudahi Polemik yang tidak penting ini, lebih baik kita lanjutkan proses Pilkad Mamuju 2020 ini dengan hati yang lapang dan sejuk jauh dari perselisihan paham namun bersaing dengan cara-cara yang lebih elegan dan jauh dari nuansa probokatif.

Dan Kalaupun penilaian saya ini berbeda dan cenderung subjektif dalam menilai Paslon lainnya yah saya kira wajar-wajar saja, karena perbedaan itu adalah anugerah.

Dan ajang Debat publik Putaran pertama semakin memperjelas kualitas dan wawasan para paslon dalam memahami esensi pemerintahan khususnya Habsi-Irwan yang dalam pandangan saya jauh lebih berpengalaman,matang dan tutur bahasa dalam menyampaikan program Mamuju Maju serasa lebih pas dan rasional bisa diterima oleh orang awam.

Namun sebaliknya Sutinah maupun Ado Mas’ud saya menilai masih butuh pendalaman dan proses dialetika, baik dalam mengajukan pertanyaan kepada paslon nomor urut 1 maupun menanggapi atau menjawab pertanyaan yang terkadang tidak subtantif sesuai tematiknya.dan lebih terkesan aktualisasi diri seperti adik-adik yang baru lepasan Bastra atau LDK.

Salah satu yang cukup menggelitik dari Program yang ditawarkan paslon nomor 1 yakni Kartu Mamuju Keren ini yang butuh penjelasan yang lebih, jangan sampai menjadi blunder kedepannya manakala ini dipaksakan karena pastinya bakal melabrak regulasi khususnya kebijakan pemerintah Pusat, belum Lagi persoalan sumber anggaran dan sebagainya.

Seyogyanya Program yang ditawarkan ke publik harus jelas regulasinya dalam hirarki perundang undangan ada,karena dikhawatirkan justru tumpang tindih dalam membuat kebijakan publik. Hal mana pemerintah Jokowi telah mencotohkan melalui UU Omnibuslaw untuk tidak lagi selalu membuat Perda- perda yang hanya akan menghambat akselerasi seluruh program-program pemerintah yang produktif.

Berdasarkan pandangan tersebut, secara pribadi saya menilai bahwa Paslon nomor urut 2 Habsi-Irwan lebih layak untuk diperjuangkan melanjutkan kepemimpinannya 5 tahun kedepan.

” Dan akhirnya saya hanya ingin tegaskan bahwa sebagai Pendatang warga keturunan Bugis di Mamuju, Saya sudah berkomitmen dan mengajak silesureng pada to OgiE mari Lanjutkan Pembangunan daerah Mamuju 2 kali lebih baik dan lebih Maju yang sejalan dengan Filosofi orang Bugis “tettokko nasaba lempu , getteko nasaba tongeng”.

Penulis : Fadli (Pengamat/Akademisi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here